 Oleh:
Heru Sunoto, A.KS
Social Worker
Inilah ungkapan yang singkat namun dari sinilah kemuliaan atau kehinaan manusia tergapai; keberhasilan atau kegagalan usaha tercetak; kebahagiaan atau kesedihan terasakan; dan surga atau nerakanya terperoleh di penghujung tahapan kehidupan kelak.
Banyak amalan manusia, walaupun benar, --apalagi jika salah-- jika tidak dilakukan secara cepat, cermat, dan tepat, maka tidak akan menghasilan output yang gemilang. Sekedar contoh sederhana: Membantu satu kwintal beras. Jika anda membantu orang miskin yang sudah berkecukupan dengan satu kwintal beras, tentu berbeda hasilnya jika anda membantunya saat ia sedang miskin atau bahkan saat ia kelaparan. Berbeda ini tentu terukur dalam nikmat-tidaknya bantuan, besarnya pahala, efek sosio-psikologis bagi kedua belah pihak, dan lain-lain.
Jika demikian, maka tidak heran kalau kita tengok sejarah masa kenabian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengiming-imingi surga kepada seorang sahabatnya yang mau menjamu tamunya di suatu malam, walapun dengan sesuatu yang tidak sebanding nilai dan kuantitiasnya. Adalah seorang Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang menyanggupi permintaan Rasulullah untuk menjamu tamunya, dan ia pun dalam keadaan tidak memiliki persediaan makan kecuali hanya untuk keluarganya. Maka, ia menyajikannya khusus untuk tamu tersebut dan dimatikanlah lampunya. Semua itu demi memuliakan tamu yang disebut oleh Rasulullah. Dan beliau pun mendapat jaminan surga. Allahu Akbar!!!.
Pun, akhirnya kita tidak merasa heran dengan firman Allah ta’alaa yang mengatakan bahwa orang-orang yang masuk Islam dan berinfaq, dan beramal shalih, namun setelah Futuh Mekkah, tidak sama dengan orang-orang yang melakukan itu di awal-awal perjuangan Islam.
Allah ta'alaa berfirman:
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Tidaklah sama antara orang-orang diantara kalian yang berinfaq dan berperang/berjihad sebelum futuh Mekkah dengan orang-orang yang datang kemudian; Mereka jauh lebih agung kedudukannya di sisi Allah daripada orang-orang yang datang kemudian walaupun berinfaq dan berjihad; Namun Allah sudah sediakan untuk keduanya balasan yang sangat baik, dan Allah Maha Memberi Balasan atas segala yang kalian lakukan. Q.S. Al-Hadid, 10.
Dan kita pun, berikutnya, tidak bisa menyamakan jasa dan kedudukan antara bapak-bapak kita dahulu yang berjuang mengusir penjajah sepenuh harta dan jiwa-raga, dengan orang-orang di zaman kini yang dengan penuh sentosa menikmati pembangunan atau membangun bangsa, meskipun ia berjerih-payah mengatur menteri-menterinya agar serius bekerja.
Bantu Palestina
Dan terkait kasus Palestina kini, maka sikap yang benar itu bagaimana? Jika anda sudah menentukannya, maka lakukanlah secara cepat, cermat, dan tepat.
Allah ta’alaa berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
Dan jika kalian sudah selesai dari suatu urusan, maka beralihlah kepada urusan lain dengan penuh semangat; Dan kepada Rabb-mulah kalian menyandarkan sepenuh harapan. Q.S. Alam Nasyrah, 7-8.
Sunnatullah
Begitulah hukum seputar ini dalam semua urusan kehidupan. Tinggi rendahnya kemuliaan, pahala, dan kedudukan manusia di sisi Allah dan di sisi manusia, terkait dengan nilai kebenaran, kecepatan, kecermatan, dan ketepatannya.*** |